Postingan

P-R-O-L-O-G-U-E

Kering kemarau patahkan ruang Semua retak, semua tersentak Siulan kesedihan gugur dan terbuang Tilami jejak tanpa berpijak Tertimpahlah sudah bercak bersemak Terbungkam sudah penuh jurang Hilangkan ketegaran dengan sesak Peluhkan rasa yang bertaburkan riang Semua seakan hilang Terhunus pedang Dilahap perang Taring si berang - berang Bintangku suram Berkabut pekat Pelita pun padam Terlilit karat Hanya raung yang berdegung Perih sakit dalam hati yang lara Sontak ku ingin teriak Dalam ruang yang sesak Haruskah marah yang tercurah Haruskah muak yang ku lontar Haruskah bedebah Di padang lebah

Romantika Si Anak Haram : Adipati Karna

Ya wis kena dihin pinasti mapag baya kena lara, tumungkul... " Ibu, tega Anjeun... Yakin kaula teh hasil hubungan gelap antara Indung kula jeung Bapa kaula. Selenting bawaning angin, kolepat bawaning kilat, yen kaula teh ceunah budak panimu ti walungan, Diurus ti leuleutik dugi ka gede kieu na ku kusir Raja Nagara Astina. Bu...  Ti leuleutik kaula teh di Karaton Nagara Astina. Sok dibabawa ku Bapa nu ngukut kaula, Dugi ka ngahiji na jeung Pandawa, jeung Kurawa. Disepak ditajong jeung sajabana.  Boh ku Pandawa, boh ku Kurawa. Tapi aya nu nya'ah ka kaula sok ngusapan jeung mere keur jajan.  Kakasih na Ibu Kunti. Lamun geus bongoh ti sarerea, kaula teh sok diusapan embun - embunan. Sing sabar, sing tawakal... Ibu...  Boa salira Indung kaula teh... Naha ku tega anjeun Ibu Tapi parendene kitu Ibu Kaula salaku Putra tetep ngado'akeun ka Ibu Muga Ibu kengeng panghampura Gusti... Keun kaula anu lara jeung tunggara na mah... Nu Maha Agung, Nu Kagungan abdi - abdi sadaya Pang ...

Feodalisme

Menjelang pemilu negriku tak lagi menyatu Dibawah bendera yang berdarah Rakyat dan pemerintah seolah menebar serapah Demi menguasai negri yang rengkah Hujatan dan ancaman menjadi tontonan Kebatilan diperjuangkan mati-matian Sedangkan kebenaran dan kejujuran Kini telah dilupakan Negriku yang malang semakin lantang mengerang Gersang tak bergemilang Tergelintang pincang ditengah gelanggang Berharap hilang dikoyak sang rangrang Ceritamu hanya akan jadi legenda dimata dunia Sejarahmu hanya akan dikenang oleh media Engkau akan selalu jadi bahan pembicaraan dunia Bahwa engkau adalah negri yang pernah ada Hilang dan hancur oleh pengelolanya

Lima April Doea Riboe Sembilan Belas

Tentangkoe jang mentjari arti kini soedah menemoekan djawaban. Jang tatkala sering koe bingoengkan pada siapa dan haroes kemana koe bertanja, teroentoek mempertanjakan kemoengkaran, kebatilan serta kearifan dan kebadjikan. Kebesaran hatikoe sering koe pertanjakan, akan berlaboeh dimanakah kesaksiankoe? Oempamanja pelaboehankoe, akankah masih bisa menerima kenistaan beserta hal-hal lainnja, jang mengoempat pada sanoebari, jang begitoe teramat dalam, sedalam keinginan dan harapankoe. Akoe takkan berhenti bertanja, pada siapa saja jang memelihara tjinta seoetoehnja. Akoe jakinkan orang seperti itoe kekajaan hatinja melebihi batas mega jang membentang luas di atas sana. Teroentoek ini, selebihnja koe pasrahkan kepada Sang Maha Pentjipta, bahwasannja ini adalah pengakoeankoe terhadap Beliaoe, bahwa kepasrahan adalah soeatoe koentji oentoek memboeka gerbang kedermawanan. Perihal ini akoe persembahkan kepasrahankoe, pada setiap bait-bait do'a jang mengaloen dalam sjair serta sjiar ja...

PROFANE

Jangan berbicara tentang kebenaran Karena ideologi kita telah dipasung kenistaan Sabda kearifan atas nama Tuhan Dalil pembodohan lacurkan kebencian Senator rancang kutukan Demi dosa dan kematian Habib doyan membunuh Tuhan Demi dunia dan surga yang profane Berharap pada pahala, berhala tanpa kepala Semiotika para gembala, bertasbih meminta neraka Dalil semu dialektika tanpa logika Pasca menyusun bencana di era kaliyuga

Perihal : Rindu

Kukirim rangkaian bunga melalui do'a, teruntuk engkau yang sedang berada dalam surga. Masih kusimpan afsunmu dalam kotak kecil memori, yang sengaja dikunci rapat-rapat dalam lubuk sanubari. Besar alasanku tidak menghapuskan kenangan. Ada beberapa memoar penting yang selalu kujadikan sandaran. Terutama kala kita dipertemukan. Kala itu, aku melihatmu dengan berjuta perasaan, yang dihiasai keindahan dan keistimewaan. Hingga dalam atma dan tersirat dengan dewana. Tak lupa ada nazar yang terucap, kala engkau berbicara menghadap angkasa. Diwaktu yang sama, aku menyimpan harapan pada setiap repihan awan. Yang kala itu, birunya angkasa tertutup oleh awan yang bersenandung dalam kedamaian. Semakin kuhayati tatapanmu, semakin dalam pula afsunku padamu. Kini tentangmu hanya menjadi cerita disaat malam tlah tiba. Percakapan dimasa itu kini hanya menjadi angan dalam khayal penghantar tidurku. Selalu kucantumkan peranmu, tak pernah lepas dari setiap mimpiku. Dan harus selalu engkau tau, dis...

Nga-la-la-na (1)

Gelap malam sepi kota Seorang pria berkacamata Berjalan menelusuri gelita Dengan ronta, tanpa reta Berbekal hati yang terista Dan jiwa yang palamarta Ia berlawalata Hanya demi arti sunyata 4 tahun menyimpan harapan pada semesta 1001 do'a Ia pinta pada setiap rekata Meski tak pernah ada warta Ia tetap berbudi pramarta Diujung jalan Ia bercerita Tentang seorang wanita Narasi nya tentang dukacarita Namun hakikatnya tentang cinta dan air mata Kala di dalam ruang gempita Tak ada satu pun pelita Yang ada hanyalah gelita Tilami cakrabuana dari cahaya semesta Pada setiap do'a Ia lantunkan gita Berisikan syair yang pokta Tak lupa mempersembahkan seikat puspita Agar semesta selalu grahita

Romantiklasikal Nihil

Kebenaran tentang hati Selalu menjadi bahan caci maki Argumennya setinggi matahari Faktanya tidak sama sekali Bergantung pada sebuah opini Klasiknya hanya eksistensi Inginnya tetap harmoni Tapi malah melacurkan janji Bicara soal cinta Pembodohan tentang rasa Syair nya seperti pujangga Padahal hanya kalimat yang tak bermakna Cerita biasa, bermain kata - kata Elegi tentang romantika Otaknya hanya telenovela Bodohnya dianggap biasa